Pandangan: Pada tahun 2026, Aset Digital Akan Beralih dari Alat Spekulatif Menjadi Infrastruktur Keuangan
BlockBeats News, 8 Januari, menurut laporan CoinDesk, bank investasi B. Riley menyatakan bahwa seiring regulasi yang semakin matang dan institusi keuangan tradisional mulai melakukan penerapan teknologi blockchain secara besar-besaran, aset digital diperkirakan akan melewati ambang batas kunci pada tahun 2026, beralih dari kelas aset yang terutama bersifat spekulatif menjadi infrastruktur keuangan berbasis utilitas.
Analis menunjukkan bahwa aturan regulasi seputar stablecoin semakin jelas, tokenisasi institusional atas real-world assets (RWA) terus berlanjut, kerangka tata kelola semakin kuat, dan interoperabilitas antara buku besar bank dan blockchain publik terus meningkat. Faktor-faktor ini secara kolektif mengubah "use case" dari aset digital, bukan hanya sebagai "medium of exchange". Evolusi ini mendorong perusahaan treasury aset digital untuk beralih dari sekadar hodling token menjadi mengoperasikan aset digital secara nyata guna menciptakan model bisnis dengan pendapatan berulang yang berkelanjutan.
MSCI telah memutuskan untuk menunda sementara penghapusan perusahaan dengan proporsi aset kripto tinggi dari indeksnya, yang dalam jangka pendek menguntungkan valuasi dan arus modal ke perusahaan terkait aset digital. B. Riley menunjukkan bahwa perusahaan seperti BitMine sedang bertransisi dari sekadar hodling token menjadi menjalankan bisnis operasional yang menghasilkan pendapatan, dan transisi ini diperkirakan akan menyebar ke seluruh industri.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Data historis menunjukkan bahwa satu kali kenaikan suku bunga tidak cukup untuk mengakhiri bull market, siklus pengetatan yang lengkap adalah ancaman sebenarnya.
Sejak tahun 1945, S&P 500 telah mengalami 12 kali bear market dengan penurunan lebih dari 20% dan 4 kali koreksi mendalam antara 18% hingga 20%. Di antaranya, 6 kali terjadi setelah siklus kenaikan suku bunga yang secara langsung menyebabkan resesi ekonomi, sementara dua kali lainnya tidak berkaitan dengan kenaikan suku bunga maupun resesi. Goldman Sachs menilai bahwa pasar telah mengantisipasi beberapa kali kenaikan suku bunga; Morgan Stanley memperingatkan bahwa kenaikan yield dapat memicu koreksi; sedangkan JPMorgan lebih fokus pada harga minyak dan profitabilitas.
Pergerakan saham AS | Corning (GLW.US) turun lebih dari 8% di pra-pasar, berencana melakukan penerbitan saham tambahan untuk mengumpulkan dana hingga 2 milyar USD
Perusahaan mengumumkan rencana penerbitan saham baru yang dapat mengumpulkan dana hingga 2 miliaran dolar AS.

TD Cowen menurunkan target harga McDonald's menjadi 282 dolar AS
