Pandangan: Pasar mengabaikan risiko “gray rhino”; jika harga minyak kembali ke 100 dolar AS, ekonomi global bisa terdampak
Menurut laporan Odaily, Jiang Zhuoer menulis di platform X bahwa pasar saat ini mengabaikan risiko "badak abu-abu" besar, yaitu kenaikan tajam harga minyak dunia. Ia menunjukkan bahwa harga minyak mentah Brent telah kembali naik ke sekitar 95 dolar AS. Dalam situasi di mana baik Amerika Serikat maupun Iran tidak dapat sepenuhnya menyelesaikan konflik dalam waktu dekat, dan juga sulit mencapai kompromi terkait akses Selat Hormuz, kemungkinan besar ketegangan akan bertahan lama sehingga kenaikan harga minyak selanjutnya hampir tidak bisa dihindari.
Jiang Zhuoer berpendapat bahwa jika transportasi melalui Selat Hormuz terus terganggu, hal ini akan memberikan dampak bencana terhadap ekonomi global. Ia juga menambahkan bahwa saat ini cadangan minyak komersial dan strategis dunia telah sangat berkurang, dengan total stok minyak mentah Amerika Serikat (termasuk stok komersial dan Cadangan Minyak Strategis) telah turun ke level terendah sejak tahun 1984. Jika harga minyak dunia kembali menembus 100 dolar AS, sentimen pasar kemungkinan besar akan memburuk dengan sangat cepat.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Proporsi pemegang Bitcoin yang mengalami kerugian menurun
Mengapa India tiba-tiba membeli US Treasury dalam jumlah besar? Pembelian bersih pada bulan Juli mencapai 15.2 miliar dolar, mencetak rekor, mekanisme swap khusus menjadi kunci
Berkat pengaturan khusus yang dibuat oleh bank sentral India untuk menarik modal asing, sejumlah besar dana mengalir masuk dan India membeli surat utang AS dalam jumlah rekor pada bulan Juli.
Industri perbankan Jepang memberikan peringatan: Kenaikan imbal hasil obligasi Jepang dapat memicu pengurangan nilai dan guncangan terhadap laba.
Imbal hasil obligasi pemerintah Jepang diperkirakan akan terus meningkat, sehingga bank menghadapi risiko pengurangan nilai aset dan menurunnya keuntungan.
