Bitget App
Trading lebih cerdas
Beli kriptoPasarTradingFuturesEarnAIWawasanSelengkapnya
Harga Perak Antam 16 September 2026 Naik Rp 450

Harga Perak Antam 16 September 2026 Naik Rp 450

Liputan6Liputan62026/09/16 07:18
Oleh:Liputan6
(Ilustrasi perak-silver by AI)

Liputan6.com, Jakarta -
Harga perak PT Aneka Tambang Tbk ( Antam) naik pada perdagangan Rabu, (16/9/2026). Kenaikan harga perak Antam hari ini mengikuti harga emas Antam dan harga perak dunia.

Mengutip laman logammulia.com, harga perak Antam naik Rp 450 menjadi Rp 41.960 pada perdagangan Rabu pekan ini. Pada perdagangan sebelumnya, harga perak Antam dipatok Rp 41.510.

Antam menawarkan perak batangan 250 gram, 500 gram dan perak butiran murni 99,95%. Perak batangan 250 gram di Rp 11.015.000 dan perak batangan 500 gram di Rp 21.105.000.

Lalu bagaimana harga perak dunia?

Harga perak naik melampaui US$ 64 per ons pada Rabu, mencatatkan kenaikan untuk sesi kedua berturut-turut seiring memudarnya momentum kenaikan harga minyak dan imbal hasil obligasi menjelang keputusan kebijakan terbaru Federal Reserve AS.

Harga minyak turun dari level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir setelah adanya lonjakan tak terduga pada cadangan minyak mentah AS, meskipun gangguan pasokan yang terus berlanjut di Timur Tengah tetap menopang harga. Sementara itu, imbal hasil obligasi global cenderung stabil setelah sempat naik belakangan ini, seiring beralihnya perhatian investor pada keputusan sejumlah bank sentral utama minggu ini.

The Federal Reserve (the Fed) diperkirakan secara luas akan menaikkan suku bunga sebesar 25 basis poin, kenaikan pertama dalam kurun waktu sekitar tiga tahun, di tengah upaya para pembuat kebijakan untuk meredam tekanan inflasi.

Pasar juga akan mencermati sinyal mengenai potensi kenaikan lanjutan di kemudian hari tahun ini, dengan munculnya ekspektasi akan adanya langkah tersebut pada Oktober atau Desember. Bank of Japan juga diperkirakan menaikkan biaya pinjaman minggu ini, sedangkan Bank of England diprediksi mempertahankan suku bunga.

Harga Emas Dunia

Seorang karyawan memegang beberapa perhiasan emas di sebuah toko perhiasan di Banda Aceh. (CHAIDEER MAHYUDDIN/AFP)

Sebelumnya, harga emas dunia terpangkas pada perdagangan Selasa, 15 September 2026 (Rabu pagi Jakarta). Harga emas tertekan oleh penguatan dolar Amerika Serikat (AS) dan kenaikan imbal hasil atau yield obligasi pemerintah AS. Hal ini seiring lonjakan harga minyak mentah yang memicu kekhawatiran inflasi dan memperkuat harapan the Federal Reserve akan menaikkan suku bunga pekan ini.

Mengutip CNBC, Rabu, (16/9/2026), harga emas spot turun 0,3% menjadi US$ 4.285,88 per ons, setelah sempat menyentuh titik terendah sejak 7 Agustus 2026 pada Senin pekan ini. Kontrak berjangka emas AS melemah 0,6% menjadi US$ 4.325,80.

"Harga energi yang lebih tinggi menyebabkan inflasi yang lebih tinggi. Inflasi yang lebih tinggi dapat memicu kenaikan suku bunga. Hal itu tidak menguntungkan bagi emas, emas saat ini bergerak dalam kisaran terbatas (range-bound). Harganya bahkan bisa turun lebih dalam jika suku bunga terus naik," ujar Senior Market Strategist di StoneX, Daniel Pavilonis.

Para pelaku pasar kini menantikan keputusan suku bunga The Federal Reserve yang dijadwalkan akan diumumkan pada Rabu pukul 14.00 waktu EDT (18.00 GMT). Pasar keuangan sangat meyakini para pembuat kebijakan bank sentral AS akan menaikkan suku bunga acuan jangka pendek sebesar seperempat poin persentase ke kisaran 3,75%-4,00%, serta memberikan sinyal pengetatan kebijakan lebih lanjut di masa mendatang.

"Menurut saya, kekhawatiran akan kenaikan suku bunga sudah banyak diperhitungkan oleh pasar. Semuanya sangat bergantung pada pernyataan The Fed setelahnya. Apakah mereka akan terus menaikkan suku bunga? Ataukah mereka akan memantau situasi terlebih dahulu? Secara keseluruhan, prospeknya kurang menguntungkan bagi emas," kata Pavilonis.

 

 

Dolar AS Menguat

Teller menghitung lembaran mata uang dolar AS di penukaran mata uang, Jakarta, Kamis (13/4). Bank Dunia memandang nilai tukar rupiah menjadi salah satu mata uang yang cukup stabil dibandingkan dengan mata uang lain. (Liputan6.com/Angga Yuniar)

Nilai tukar dolar AS menguat, sehingga membuat harga emas yang diperdagangkan dalam mata uang AS, menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lain, sementara imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun naik ke level tertinggi sejak 2007.

Meskipun emas secara tradisional dianggap sebagai sarana lindung nilai terhadap inflasi dan ketidakpastian geopolitik, imbal hasil yang lebih tinggi pada obligasi Treasury yang bebas risiko mengurangi daya tarik logam mulia yang tidak memberikan imbal hasil (bunga) tersebut.

"Sebagian besar risiko kebijakan hawkish The Fed tampaknya sudah tercermin dalam harga pasar. Namun, emas bisa tetap rentan jika para pembuat kebijakan memberi sinyal bahwa suku bunga akan tetap tinggi untuk jangka waktu yang lebih lama," ungkap para analis ING dalam sebuah catatan.

Harga minyak naik tipis setelah serangan terhadap infrastruktur energi Arab Saudi menyebabkan Pipa Timur-Barat milik kerajaan tersebut berhenti beroperasi, sehingga memicu kekhawatiran perbaikan kerusakan pada infrastruktur energi dan jalur transportasi akan memakan waktu lebih lama.

Di antara logam lainnya, harga perak spot naik 0,7% menjadi US$ 63,64, platinum menguat 0,8% menjadi US$ 1.773,13, dan paladium naik 0,5% menjadi US$ 1.299,76.

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

0
0

Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.

PoolX: Raih Token Baru
APR hingga 12%. Selalu aktif, selalu dapat airdrop.
Kunci sekarang!