"Kondisi ini menjaga harga minyak tetap tinggi, di atas US$ 115 per barel, serta meningkatkan risiko fiskal ke depan. Ekspektasi kenaikan suku bunga AS juga meningkat," kata Erwin dalam keterangannya, Rabu (28/10/2026).
Selain itu, sentimen risk-off yang memburuk mendorong penguatan dolar Amerika Serikat dan arus keluar dana dari pasar negara emerging markets. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan yield obligasi. Dari domestik, kekhawatiran atas potensi penurunan klasifikasi pasar saham Indonesia oleh MSCI turut menekan aliran dana.
Advertisement
Disamping itu, kebutuhan valas domestik yang meningkat menjelang akhir bulan juga menambah tekanan. Upaya BI Jaga Rupiah Kendati demikian, Erwin mengatakan secara umum, pergerakan Rupiah masih sejalan dengan mata uang kawasan. Secara bulanan, Rupiah melemah 1,15%. Sementara itu, cadangan devisa tetap terjaga sebesar US$ 146,3 miliar pada akhir September 2026.
"BI terus hadir di pasar untuk menjaga mekanisme pasar berjalan dengan baik dan stabilitas nilai tukar Rupiah tetap terjaga sesuai fundamentalnya. Langkah stabilisasi dilakukan secara konsisten melalui transaksi Non-Deliverable Forward (NDF), Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), dan spot. BI juga membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder," ujarnya.
Bank Indonesia terus berkoordinasi dan berkomunikasi secara intensif dengan korporasi, pelaku pasar, dan pihak terkait lainnya.
Rupiah Hari Ini Makin Tertekan ke 18.174 terhadap Dolar AS
Sebelumnya, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) masih tertekan pada pembukaan perdagangan Rabu, (28/10/2026). Apa saja yang mempengaruhi rupiah hari ini?
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada pembukaan perdagangan turun 18 poin atau 0,10% menjadi 18.174 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level 18.156 per dolar AS.
Ekonom BCA David Sumual menuturkan, tekanan terhadap rupiah masih dipengaruhi kejutan dari penyedia indeks global MSCI. Selain itu,harga minyak dunia yang masih tinggi berdampak terhadap pasar obligasi. “Harga minyak masih cenderung tinggi sehingga pasar obligasi domestik tampak khawatir dampaknya pada harga obligasi dan tekanannya terhadap kurs rupiah,” ujar David saat dihubungi Liputan6.com.
Sementara itu, Ekonom Bank Danamon, Faiz Irman menuturkan, rupiah masih bergerak fluktuatif dengan kecenderungan tertekan. Dalam jangka pendek, pihaknya memprediksi rupiah bergerak dengan rentang Rp 18.100-Rp 18.300.
Sebelumnya, nilai tukar rupiah kembali ditutup melemah melemah 21 poin ke level Rp 18.156 per dolar Amerika Serikat (AS). Sebelumnya, rupiah sempat menguat 10 poin dari posisi penutupan perdagangan sebelumnya di level Rp 18.135 per dolar AS.
Pengamat Ekonomi, Mata Uang dan Komoditas Indonesia Ibrahim Assuaibi, mengatakan pergerakan mata uang rupiah masih dibayangi ketidakpastian global, terutama perkembangan konflik di Timur Tengah dan arah kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).
"Mata uang rupiah ditutup melemah 21 poin sebelumnya sempat menguat 10 point di level Rp 18.156 dari penutupan sebelumnya di level Rp 18.135," kata Ibrahim dalam keterangannya, Selasa, 27 Oktober 2026.
Sementara itu, sepanjang pekan ini, rupiah diperkirakan bergerak pada kisaran Rp 17.900 hingga Rp 18.250 per dolar AS. Pergerakan rupiah masih akan dipengaruhi oleh perkembangan situasi geopolitik global, arah kebijakan moneter AS, serta kondisi ekonomi domestik yang turut menentukan persepsi investor terhadap aset berisiko di pasar negara berkembang.
Advertisement
Ketegangan Timur Tengah Bayangi Pergerakan Rupiah
Ibrahim mengungkapkan, salah satu faktor eksternal yang menjadi perhatian pasar adalah perkembangan konflik di Timur Tengah, terutama ketegangan yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat. Upaya diplomatik yang melibatkan Iran, Arab Saudi, Turki, dan Pakistan terus dilakukan untuk meredakan ketegangan regional.
Pejabat senior dari Arab Saudi, Turki, dan Pakistan dilaporkan bertemu dengan para pemimpin Iran di Teheran pada Senin untuk mendorong penurunan eskalasi konflik dan membuka peluang negosiasi.
Pembahasan tersebut mencakup kemungkinan perundingan antara AS dan Iran, gangguan pelayaran di Selat Hormuz, serta blokade Washington terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran.
"Risiko terhadap pasokan tetap cukup besar. Konflik dengan Iran telah mengganggu pelayaran komersial melalui Selat Hormuz dan Selat Bab el-Mandeb, dua jalur penting bagi perdagangan energi global," ujarnya.
Faktor Internal
Sementara itu, dari dalam negeri yang mempengaruhi pelemahan rupiah yakni pernyataan pemerintah mengenai kecukupan stok BBM memberikan indikasi bahwa risiko gangguan pasokan dalam jangka pendek dapat dikelola.
Akan tetapi, kondisi tersebut tidak otomatis menjamin APBN terbebas dari tekanan akibat kenaikan harga minyak dunia.
"Kebijakan yang perlu diperhatikan mencakup pengelolaan cadangan energi, pengawasan penyaluran BBM bersubsidi agar tepat sasaran, pengendalian konsumsi energi, serta pengelolaan risiko harga minyak dan nilai tukar," ujar dia.
Selain itu, kekhawatiran inflasi di tengah tingginya harga pangan merupakan persoalan ekonomi yang perlu mendapat perhatian karena berkaitan langsung dengan daya beli masyarakat, stabilitas harga, dan pertumbuhan ekonomi.
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
Advertisement
