Goldman Sachs: Tren utama AI berikutnya akan beralih dari daya komputasi ke robot humanoid
Goldman Sachs percaya bahwa kekurangan tenaga kerja dan permintaan otomatisasi memberikan dorongan pertumbuhan jangka panjang bagi industri robot humanoid. Valuasi sektor robot humanoid dan otomasi di Asia masih lebih rendah dibandingkan aset sejenis di Amerika Serikat, dan aliran modal kini berputar ke komponen inti serta rantai industri otomasi. Namun demikian, industri ini secara keseluruhan masih berada pada tahap awal komersialisasi, data dunia nyata yang langka, kemampuan AI otonom yang belum memadai, serta biaya yang masih tinggi tetap menjadi hambatan utama bagi implementasi skala besar robot humanoid.
Narasi investasi kecerdasan buatan (AI) kini tengah bergeser dari infrastruktur dasar menuju aplikasi.
Laporan terbaru Goldman Sachs menunjukkan bahwa seiring infrastruktur daya komputasi AI terus berkembang, robot humanoid berpotensi menjadi titik pertumbuhan penting berikutnya untuk AI, sementara kekurangan tenaga kerja dan kebutuhan otomatisasi menjadi penopang struktural bagi perkembangan industri dalam jangka panjang.
Tim perdagangan Asia Goldman Sachs baru-baru ini melakukan riset yang menilai bahwa industri robotika di Asia masih berada pada tahap awal perkembangan. Dibandingkan dengan aset serupa di Amerika Serikat, valuasi sektor robotika dan otomasi Asia masih tergolong diskon, namun proyeksi pertumbuhan keuntungannya lebih tinggi, dan dana telah mulai beralih ke rantai pasok robotika.
Bank ini juga menekankan bahwa saat ini industri masih berada dalam tahap transisi dari verifikasi teknologi ke komersialisasi, sehingga implementasi berskala besar masih membutuhkan waktu.
Iterasi teknologi cepat, komersialisasi masih di tahap awal
Jacqueline Du, ahli strategi saham Goldman Sachs, dalam laporan terbarunya mengungkapkan bahwa pada 18–22 Mei, pihaknya mengunjungi 14 perusahaan robotik di Hong Kong, Shenzhen, dan Beijing, meliputi rantai industri embodied AI, robotik, dan otomasi di Tiongkok.
Riset ini menunjukkan bahwa model VLA/VTLA dan model dunia sedang dipadukan secara akseleratif, mendorong peningkatan kemampuan perencanaan dan adaptasi lingkungan robot, serta memperbesar skala model.
Namun, berbeda dengan large language model, AI untuk robot menghadapi kelangkaan data dunia nyata. Latihan robot membutuhkan banyak data fisik seperti gaya, torsi, dan pergerakan, yang sulit diperoleh secara masif seperti teks dan gambar internet, sehingga menjadi hambatan utama peningkatan pelatihan dan kemampuan model.
Untuk mengatasi masalah ini, industri sedang meningkatkan investasi pada pabrik data terpusat dan pengumpulan data kolaborasi manusia-mesin. Goldman Sachs berpendapat, dengan meningkatnya kebutuhan data pada robotika, pengumpulan data dan layanan terkait juga dapat menjadi sumber pendapatan penting di masa mendatang dalam rantai industri.
Dari sisi aplikasi, penerapan robot pada skenario industri dan logistik saat ini masih didominasi oleh proof of concept (POC), sehingga masih jauh dari komersialisasi berskala besar. Sebagian besar pelaku industri memperkirakan bahwa setelah mengakumulasi puluhan juta jam data berkualitas tinggi dan model siap deploy, robot humanoid berpotensi memasuki tahap komersialisasi massal secara bertahap pada 2027 hingga 2029.
Goldman Sachs memperkirakan pengiriman robot humanoid global akan mencapai 76.000 unit pada tahun 2027, dan meningkat menjadi 502.000 unit pada tahun 2032.
Dari “aktif” ke “berguna”, masih perlu melewati hambatan teknologi
Goldman Sachs melihat potensi besar industri robot humanoid dalam jangka panjang, dan meyakini robot humanoid berpeluang menjadi terminal aplikasi luas generasi baru setelah smartphone dan mobil. Seiring meningkatnya produksi massal, harga rata-rata robot dan biaya material diharapkan bisa terus turun, sehingga memperbaiki model bisnis.
Namun, titik balik teknologi sejauh ini belum benar-benar terjadi.
Goldman Sachs menyatakan, demonstrasi Tesla Optimus pada acara “We, Robot” dan penampilan Unitree H1 pada Gala Festival Musim Semi 2025 menunjukkan peningkatan signifikan dalam fleksibilitas hardware dan robustness robot humanoid. Namun, dibandingkan tuntutan aplikasi skala besar di industri dan konsumen, masih terdapat kesenjangan pada aspek presisi, konsistensi, biaya, serta kemampuan AI otonom umum pada robot.
Di antaranya, kemampuan AI otonom umum tetap menjadi hambatan paling utama. Robot tidak hanya harus bisa “melihat” dan “mendengar” lingkungan, tapi juga mampu secara mandiri merencanakan dan mengeksekusi aksi beruntun di lingkungan nyata yang kompleks, sehingga membutuhkan persyaratan yang lebih tinggi pada model, data, dan perangkat keras.
Sementara itu, Nvidia sedang mempercepat proses ini melalui ekosistem Physical AI. Chip komputasi tepi Jetson Thor, model GR00T dan platform Isaac, serta Isaac GR00T Blueprint dan kerangka simulasi Cosmos memungkinkan pengembang robot untuk menghasilkan banyak data sintetis melalui lingkungan simulasi, sehingga mengatasi kelangkaan data fisik nyata.
Fokus pada komponen inti, manfaatkan valuasi murah di Asia
Goldman Sachs berpendapat, nilai rantai pasok robot humanoid akan lebih banyak terkonsentrasi pada komponen inti yang memiliki hambatan teknologi tinggi. Di antaranya, harmonic reducer memiliki hambatan teknologi tertinggi dengan persyaratan presisi, ringan, dan performa torsi yang sangat ketat sehingga memiliki potensi pertumbuhan besar; sedangkan untuk actuator assembly, adopsi teknologi di robot berspesifikasi tinggi lebih deterministik.
Sebaliknya, ballscrew planet masih dalam tahap perubahan cepat, sehingga existensi yield, konsistensi produksi, dan kesiapan kapasitas produksinya masih belum pasti; jalur teknologi untuk tangan fleksibel juga masih belum sepenuhnya jelas.
Dari sisi valuasi, tim perdagangan Asia Goldman Sachs menilai bahwa sektor robotika Asia masih memiliki potongan diskon dibanding aset AS yang serupa. Data menunjukkan, median price earnings ratio (PER) basket robotik Asia Pasifik sebesar 22 kali, sedangkan aset AS mencapai 28 kali, lebih rendah sekitar 21%. Pada rasio PEG, basket robotik Asia Pasifik sebesar 1,5 kali, sedangkan AS 2,0 kali.
Hal ini berarti, valuasi perusahaan robotika dan otomasi Asia saat ini relatif lebih rendah, namun proyeksi pertumbuhan keuntungannya tidak kalah dengan aset serupa di Amerika Serikat.
Aliran dana juga mulai menunjukkan perubahan. Goldman Sachs mengamati bahwa reksa dana bersama secara bertahap mulai beralih ke rantai pasok industri robotik, namun secara keseluruhan posisi portofolio masih pada tahap awal, dengan dana terutama tersebar pada suku cadang, otomasi otomotif, serta otomasi industri dan manufaktur presisi.
Goldman Sachs menilai, hal ini menunjukkan industri robotika belum memasuki tahap banjir modal secara luas, sehingga jika industri masuk siklus komersialisasi berskala besar, kemungkinan saat ini masih berada pada tahap awal rotasi modal.
Disclaimer: Konten pada artikel ini hanya merefleksikan opini penulis dan tidak mewakili platform ini dengan kapasitas apa pun. Artikel ini tidak dimaksudkan sebagai referensi untuk membuat keputusan investasi.
Kamu mungkin juga menyukai
Bank Sentral Inggris mempertahankan suku bunga tidak berubah, pengurangan neraca keuangan dilakukan lebih agresif dari yang diperkirakan
Bank Sentral Inggris pada hari Kamis mengumumkan mempertahankan suku bunga acuan di 3,75% sesuai dengan ekspektasi pasar secara umum.
Lebih penting daripada keputusan suku bunga! Investor obligasi fokus pada rencana QT Bank Sentral Inggris
Bagi para investor obligasi, mereka lebih memperhatikan rencana pengetatan kuantitatif (QT) Bank Sentral Inggris selama setahun ke depan, daripada keputusan suku bunga pada hari Kamis.
